Ida Betara Pura Dalem Swargan Kedewatan Bongkasa Melancaran

  • 03 Desember 2019
  • Dibaca: 330 Pengunjung
Ida Betara Pura Dalem Swargan Kedewatan Bongkasa Melancaran

Bongkasa-(3/12/2019) Kajeng Kliwon Pemelastali, sasih keenam Ida Betara ring Pura Dalem Swargan Kedewatan melancaran di seputaran wilayah wewidangan Banjar Kedewatan Bongkasa, diiringi oleh pemedek Banjar Kedewatan Bongkasa, Minggu (1/12/2019).

 “Sasih Kenem”, Ida Sesuhunan Pura Dalem Swargan Kedewatan Bongkasa melancaran ring wewidangan banjar, sasih pancaroba. Gumatap-gumitip (mikro organisme) seperti bakteri, jamur, virus, cendawan, amuba, tumbuh dan berkembang dengan baik. Cuaca yang ekstrim kerapkali menimbulkan bencana. Kondisi alam tidak stabil. Orang sering mengatakan sasih kenem adalah musim penyakit dan musim bencana, Secara niskala sasih kenem menyimpan mitos bahwa “ancangan Ida Ratu Gede Mecaling” sedang berkeliaran ke desa-desa mencari mangsa. Sehingga sasih kenem makin memiliki misteri bagi umat Hindu di Bali,” ujar Pemangku Alit Pura Dalem Swargan Kedewatan Bongkasa.

“Dalam menghadapi kondisi ini, setiap desa adat di Bali melakukan upacara “melancaran” begitupun di wilayah Banjar Kedewatan Bongkasa disini, bagi segenap sebagai wujud rasa bakti serta memohon kerahayuan.Anjangsana biasanya dilakukan pada hari kajeng kliwon atau tilem, pada sore hari menjelang malam (sandikala).Dalam anjangsana keliling desa atau Banjar, Ida Betara kemudian dihaturkan pengilen dan ayaban rayunan sari yang dikenal dengan “Ngaturang Hidangan” diikuti sembah bakti para damuh. Terakhir dihaturkan penyamblehan ayam hitam, “ujar Pemangku Alit Pura Dalem Swargan Banjar Kedewatan Bongkasa

“Melancaran tujuannya memohon kerahayuan kehadapan Ida Betara Sesuhunan agar manusia terhindar dari segala bahaya, penyakit, dan bencana.
Dan jika dikaitkan dengan mitologi melancaran bermakna memohon perlindungan kepada Ida Betara Sesuhunan agar terhindar dari pengaruh negatif para ancangan Ida Ratu Gede Mecaling. Melancaran juga disebut “ngelawang”, karena beliau diiring berangjangsana dari pintu ke pintu gerbang (lawang) keliling desa. Disebut “macecingak”, karena beliau diiring untuk meninjau keberadaan umat manusia dan alam lingkungan. Disebut “nangluk merana”, karena umat mohon agar Ida Betara Sesuhunan mengendalikan hama penyakit yang menyerang pertanian, serta penyakit yang menyerang manusia. Upacara melancaran di Kedewatan Bongkasa ini diikuti penuh hikmat oleh warga banjar Kedewatan sehingga upacara berjalan dengan lancar,” ujar Putu Suarna Kelian Adat Banjar Kedewatan Bongkasa

Melancaran umumnya dilakukan pada sasih kenem. Namun rentang waktunya mulai sasih kelima sampai keulu, kemudian pada sasih kesanga dilakukan tawur serangkaian Nyepi. Selanjutnya sasih kedasa dianggap sudah “kedas” / bersih / kondisi alam dirasa mulai stabil. Kurang lebih demikian. Ampura. Kadi nasikin segara.

006/KIM/BKS)

  • 03 Desember 2019
  • Dibaca: 330 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita